Selasa, 13 Desember pukul 09.00 aku terbangun dari tidur karena bising suara panggilan masuk yang berdering lewat ponselku. Oh, ibuku menelfon dan secara mengejutkan memeberikan kabar kalau ayah masuk rumah sakit, opname. Hell! itu seperti shock theraphy. Bagaimana tidak? ini adalah kali pertama aku mendapati kabar kalau ayahku harus dirawat dirumah sakit. Sesakit-sakitnya ayah, belum pernah beliau harus sampai dirawat. "pasti parah sekali sakitnya", begitu pikirku saat itu.
Tanpa pikir panjang, aku langsung membereskan semua barang dan bergegas pulang ke Temanggung. Padahal, hari itu aku sedang sangat bersemangat untuk mulai memproses skripsiku, tapi bagaimana lagi? Dalam perjalanan Jogja-Temanggung, pikiranku kacau, tidak tenang, semua lagu yang mengalun lewat headset yang kupasang di telinga pun terasa seperti gumaman pengiring perjalanan saja, hambar.
Satu setengah jam kemudian aku sudah sampai dirumah sakit, sesampainya disana dan masuk ke ruangan dimana ayah dirawat, aku benar-benar terdiam, bingung tidak tahu harus bagaimana melihat sahabatku paling dekat ini tergeletak lemas diatas ranjang. Tapi saat itu aku sudah cukup tenag melihatnya yang sudah mulai bisa bercerita macam-macam, mulai dari masalah politik, cerita-cerita konyol, dan musik. Bahkan saat itu beliau sangat antusias mendengarkan cerita tentang aktivitasku akhir-akhir ini. Aku cukup tenang saat itu.
Tiga hari berlalu di rumah sakit, dengan diagnosa yang belum jelas, antara gangguan liver, gengguan ginjal, lemah jantung, atau apalah. Tapi saat itu melihat ayah yang sangat bersemangat dan sudah segar, aku hanya berpikir kalau beliau akan segera sehat dan baik-baik saja. Bahkan hari kamis itu beliau berkata "aku besok pulang". Meredalah semua perasaan tidak tenang selama beberapa hari itu.
Jumat pagi pukul 01.00 aku mencoba tidur, tapi entah kenapa sulit sekali untuk memejamkan mata. Samar-samar diluar rumah aku dengar suara orang-orang lalu lalang. "ah, apa-apaan pula ini bapak-bapak ribut diluar, aku jadi makin susah tidur", begitu kataku dalam hati. Tiba-tiba pintu rumahku diketuk tiga kali, dalam kondisi itu aku langsung gemetaran, takut ada sesuatu yang buruk. Aku buka pintu dan tampak dua orang kakak sepupuku berdiri diluar. Aku terkaget ketika mereka bilang kalau aku dan adikku harus segera ke rumah sakit, ayah dipindah ke ICU. Oh! apalagi ini? perasaanku mulai tidak karuan berharap kalau ayah akan baik-baik saja, tapi melihat keadaan dimana diluar rumah sudah banyak sekali tetangga-tetangga berkumpul, hal tersebut seakan-akan menipiskan keyakinanku kalau ayah baik-baik saja.
Selama perjalanan aku hanya diam di mobil, berdoa terus menerus agar ayah baik-baik saja. Tapi aku malah makin kacau sesampainya di rumah sakit, begitu turun dari mobil, seorang kakak sepupuku langsung memegangiku erat dan menuntunku berjalan masuk. Dia berkata "tidak apa-apa, kamu yang kuat". Kacau, itu kata-kata yang paling menjelaskan bagaimana perasaanku saat itu. Akhirnya kami sampai padfa sebuah ruangan, ada Ibu, Om dan beberapa saudaraku disitu. Aku kaget ketika Om memelukku dan berkata, "sabar ya, yang tabah", kemudian disambung oleh ibuku yang berkata dengan sedikit terisak "jenazah ayahmu ganteng, wangi sekali". Saat itu juga aku shock bukan main, aku langsung duduk terdiam, mengis sejadi-jadinya. Ayah meninggal, ayah sudah berpulang, itu kenyataan yang mau-tidak mau harus aku terima saat itu. Gila.
Hari itulah, Jumat tanggal 16 Desember 2011 aku resmi ditinggalkan ayah sekaligus sahabat paling baik didunia. Kalau harus menjelaskan bagaimana perasaan saat itu, bagi kalian semua yang mungkin belum pernah merasakannya, percayalah kalu itu adalah perasaan paling buruk yang pernah kalian rasakan, melebihi kesedihan macam apapun juga. Akan sangat wajar kalau kalian menangis seperti aku, tidak masalah menurutku, tangisan itu menjelaskan bagaimana berartinya orang yang baru saja meninggalkan kita.
Saat itu kemudian aku diperbolehkan meihat jenazh ayah. Benar kata ibuku, wajahnya cerah sekali, terlihat sangat tampan. Bibirnya tersenyum, mungkin karena beliau lega karena telah berhasil menyelesaikan tugas-tugas yang harus diembannya di dunia ini. Dan satu lagi, jenazahnya wangi. Melihat kondisi ayah yang demikian aku cuma tertunduk lemas disampingnya, doa dan tangis keluar secara bersamaan, riuh memenuhi batin. Setelah selesai dengan doaku, aku beranjak dan kucium kening ayah. masih dengan terisak, aku hanya bisa mengatakan ini saat itu, "selamat tinggal Ayah.. ".
No comments:
Post a Comment